Beasiswa? Gampang Kok Diraih

Beasiswa itu gampang. Wah, kelihatannya enteng sekali mengatakannya. Namun, ini justru menjadi keyakinan Ratnasari Dewi setelah perjalanan panjang meraih beasiswa.
Kuncinya, meski sudah berkali-kali menerima penolakan dari berbagai penyelenggara beasiswa, Dewi tak kunjung menyerah. Lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini justru makin giat mengejar impiannya untuk sekolah ke luar negeri dengan beasiswa, seperti dituturkannya di Indonesia Mengglobal. Dia pun akhirnya berhasil melanjutkan studi ke Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.
Beasiswa itu mudah bagi Anda yang memang menaruh komitmen besar untuk melanjutkan studi dengan beasiswa di luar negeri dan di dalam negeri. Pasalnya, menurut Dewi, hanya mereka yang berkomitmen besar yang akan mencurahkan fokus dan energinya untuk menemukan jalan menuju cita-cita yang diimpikan.
Tulisan ini disusunnya pada tahun 2010. Namun, perjalanan panjangnya bisa menjadi wawasan baru bagi Anda yang bercita-cita melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa. Jangan mudah menyerah!
—–
“Ih Wi, hebat banget si loe bisa dapat beasiswa!!!”
Ucapan itu keluar dari setidaknya dari beberapa orang ketika mendengar saya mendapat beasiswa Fulbright untuk melanjutkan S2 ke Amerika. Beberapa orang mengucapkan selamat sambil terus bilang kata-kata di atas.
Buat saya, mendapat beasiswa adalah hal yang lumrah saja karena selama Indonesia masih menjadi negara berkembang (baca: negara dunia ketiga), negara-negara maju akan memberikan bantuan beasiswa ini. Jadi, kalau gigih berjuang dan cerdas berusaha, beasiswa hanya tinggal masalah waktu.
Untuk saya begitu. Tidak banyak orang yang tahu bahwa ini adalah percobaaan ketujuh saya untuk mendapat beasiswa. Setelah mendapat enam kali pelajaran berharga, saya akhirnya lulus juga. Dan tidak tanggung-tanggung, saya mendapatkan beasiswa yang selama ini dianggap orang sangat prestisius dan susah. Bangga? Tentu saja. Keluarga dan suami saya masih terus memperlihatkan betapa bangganya mereka. Tapi setelah itu, lama-lama saya anggap beasiswa ini adalah amanah Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Karena bukan main-main mendapat beasiswa. Saya punya tanggung jawab moral untuk kembali ke tanah air dan mengamalkan ilmu yang saya dapat di belahan bumi Tuhan yang lain.
Beasiswa pertama yang mengirimkan surat tolak adalah beasiswa Chevening ke Inggris. Saya sudah dipanggil wawancara, tapi saya belum berhasil. Yang kedua adalah ADS ke Australia. Surat penolakan itu datang lagi. Gondok? Bisa jadi begitu. Tapi karena kata gagal sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup saya, saya tersenyum saja dan bilang dalam hati, “Wi, ini hanya masalah waktu.” Ketiga kalinya saya coba lagi Chevening. Malah lebih parah. Saya tidak dipanggil wawancara. Hahaha. Tertawa saya waktu itu. Saya lalu coba lagi ADS. Datang sebuah pemberitahuan bahwa ada surat datang ke kantor pos yang harus saya ambil. Begitu surat sampai di tangan saya, jelas-jelas tertulis, “Anda belum beruntung.”
Karena saya sudah siap mendapatkan surat tolak, saya biasa-biasa aja. “Baru empat kali,” saya berujar. Di mailing list Beasiswa, orang-orang ada yang mencoba sampai 15 kali baru berhasil. Jadi kalau baru empat kali dapat surat tolak, ini belum ada apa-apanya.
Saya menganggap yang paling hebat adalah orang yang bisa membiayai sekolahnya sendiri. Saya belum sanggup membayar mahal untuk sekolah di luar negeri. Ini membuat saya menjadi “pengemis intelektual”. Tapi buat saya, kalau ini memang caranya saya bisa memajukan bangsa, akan saya lakukan juga. Percobaan kelima adalah beasiswa Norad ke Norwegia. Saya gagal karena Universitas Padjadjaran tempat saya belajar dulu tidak punya kerjasama dengan UIO di Norwegia. Ah sudahlah. Masih banyak jalan menuju Roma. Saya percaya itu.
Selidik punya selidik, ada beasiswa ke Swedia. Saya sudah mulai menyusun strategi karena sudah pernah 5 kali dapat surat tolak. Intinya, pasti ada yang saya belum kuasai, sehingga saya belum bisa diterima. Betul sekali, bahwa saya mendapat surat tolak keenam kalinya. Saya ingat sahabat baik saya Tomi Haryadi. Dia mendapat beasiswaStuned ke Belanda, lalu Fulbright Humphrey ke Amerika. Dia selalu bilang, “Wi, ayo. Sedikit lagi.” Saya kagum karena Tomi tidak pelit ilmu. Dia memberikan kepada saya tip-tip dan juga memberikan saya contoh-contoh Study Objective dan Personal Statement yang kira-kira bisa menarik perhatian para pemberi beasiswa. Ini yang membuat saya sadar, bahwa rezeki Tuhan tidak kemana. Tomi ingin saya, dan banyak kawan-kawannya mendapat beasiswa. Jadi tanpa pelit, dia membagi ilmunya.
Selanjutnya, saya melihat ada beasiswa Tsunami Fulbright yang khusus diberikan untuk putra-putri Aceh. Saya pikir, saya pasti tidak bisa karena saya bukan berdarah Aceh, jadi saya mau mendaftar yang regular saja. Namun ketika saya konfirmasi ke Aminef (organisasi yang bekerja erat dengan Fulbright), mereka bilang kalau kerja di Aceh maka bisa mencoba. Jadi saya pikir kenapa tidak.
Dengan gegap gempita, saya mendaftar. Belajar dari enam kali surat penolakan, kali ini saya minta supervisor saya di kantor untuk mencek Study Objective yang saya buat. Dia mementor saya. Beberapa waktu berlalu. Saya hampir lupa saya mendaftar beasiswa sampai kawan saya bilang beberapa kawannya sudah mendapat kabar dari Fulbright. Saya lantas membuka email khusus yang saya buat untuk mendaftar beasiswa. Saya melihat ada email yang bilang bahwa saya maju ke babak selanjutnya. Saya harus merevisi Study Objective dan membuat Personal Statement. Saya langsung menghubungi lagi supervisor saya. Tinggal empat hari waktunya. Tapi saya yakin, kalau rezeki, tidak akan kemana.
Singkat cerita, saya diterima. Puji Allah yang Mahaesa. Saya akan ke Amerika. Waktu berangkat masih sekitar 8 bulan lagi ketika saya harus rajin mengurus-urus administrasi.
Yang bisa saya bagi adalah bahwa beasiswa itu mudah. Yang membuat susah hanyalah pikiran kita saja yang sering kalah sebelum berperang. Yang membuat susah hanyalah rasa malas mengurus berkas dan menunda-nunda pekerjaan. Saya dulu cuti dari kantor di Banda Aceh dan bela-belain ke Bandung mengurus transkrip. Mahal sekali ongkosnya. Tapi karena saya mau, maka saya lakukan juga. Beberapa kawan beralasan jarak, tidak ada waktu, dan segala-gala rupa. Tapi semua orang punya waktu 24 jam, baik itu saya, Pak Jusuf Kalla, Presiden Obama, atau Rasul Muhammad dulu. Tinggal masalah prioritas atau tidak.
Beberapa orang malas ikut karena ribet harus riset mau sekolah dimana. Tapi jangan-jangan mereka lupa, bahwa tidak ada yang pakai proses di dunia ini. Kalau malas, bagimana mau dapat. Berikutnya, beberapa orang malas ikutan tes TOEFL atau IELTS. Alasaannya karena beberapa tes diadakan di hari Sabtu, di kala libur akhir pekan. Saya ingat sekali. Saya dan seorang kawan (yang juga keterima Fulbright) datang jam setengah 8 pagi untuk ikut tes TOEFL di hari Sabtu. Bisa kok, kalau mau.
Saya pernah membuat presentasi yang saya perdengarkan di Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry. Waktu itu yang datang tidak banyak. Entah kenapa, tapi saya curiga karena mereka menganggap beasiswa itu susah. Berikut saya kutipkan beberapa tips yang pernah saya lakukan dan berhasil:
1. Tahu jurusan apa yang kita mau
Bisa dilakukan dengan cara browsing, ngobrol dengan: yang pernah sekolah, dosen, supervisor, dst, baca banyak buku: Kiat Mendapatkan Beasiswa (bisa dibeli di milis beasiswa), dan ikut milis beasiswa, seperti beasiswa@yahoogroups.com.
Pengalaman saya mengatakan bahwa ada orang-orang yang terlihat semangat mendaftar beasiswa tapi tidak tahu beasiswa yang ditawarkan itu apa saja. Banyak yang cuma tahu Chevening, ADS, Fulbright, tapi ada yang tidak tahu ada beasiswa USAID, NZAID, dan banyak lagi (ini soalnya males mencari dan nunggu disuapi). Bahkan ada beasiswa yang langsung dari universitas. Ada yang bahkan tidak tahu kapan deadline-nya. Beberapa juga suka mengerjakan semua syarat-syaratnya di waktu-waktu terakhir alias last minute. Saya yakin sekali, usaha itu akan mempengaruhi hasil. Jadi kalau tidak mau investasi waktu, yah siap-siap mendapat surat tolak.
Saya sudah lama tidak punya kata GAGAL dalam hidup saya. Yang ada hanyalah belum saatnya, belum rezeki, masih disuruh belajar sampai bisa. Jadi buat saya ini hanyalah persoalan keteguhan hati, dan stamina. Saya berangkat di percobaan ketujuh, ada yang sampai 10 bahkan 15 kali baru bisa. Bukan persoalan hebat, tapi persoalan proses orang yang berbeda-beda.
ini saya suka sebel. Karena ingin bersaing, menggunakan cara-cara yang tidak sehat. Banyak orang yang pelit berbagi informaasi dan ilmu. Padahal, dapat beasiswa ini faktor usaha cerdas dan kasih sayang Tuhan. Saya rajin sekali membagi-bagi Study Objective dan Personal Statement saya untuk dijadikan contoh. Bisa kontak email kalau mau. Karena saya mau semua orang maju. Ga seru maju dan pinter sendiri.
Ini berlaku kalau mau sekolah ke negara dengan Inggris sebagai bahasa pengantar. Perlu diingat bahwa TOEFL dan IELTS juga cuma alat ukur. Yang paling penting adalah paham yang bisa didapat dari berlatih, berlatih, dan berlatih. Saya dulu beli buku TOEFL dan IETLS, dan saya berlatih sendiri. Bila tidak mengerti, saya tanya dengan orang-orang yang mengerti.
Kembali kepada tips pertama. Rajin-rajin ngobrol. Karena banyak universitas di luar negeri itu bagus-bagus. Tinggal memilih sekolah yang punya spealisasi, karena mereka pasti akan mengembangkan ilmu dengan riset-riset terdepan. Dan yang pasti, tinggal bagaimana kita belajar saja.
Banyak orang siap tidak berhasil, tapi tidak siap ketika sukses. Buat saya penting untuk menyiapkan diri untuk sukses. Saya baru saja menikah ketika saya mendapat beasiswa. Tapi suami saya luar biasa. Dia bilang bahwa saya harus berangkat. Saya persiapkan diri saya dan dia untuk berpisah sejenak. Saya persiapkan orang tua saya yang tidak muda lagi untuk melihat anaknya pergi jauh. Saya siapkan adik-adik saya yang akan tidak melihat kakaknya untuk jangka waktu yang relatif lama. Saya siapkan kawan-kawan saya bahwa saya bisa jadi tidak bisa ada ketika mereka butuh seperti biasanya. Untuk saya, sukses juga berarti siap untuk terus rendah hati. Karena seperti yang pernah saya bilang di atas, tidak ada hebatnya mendapat beasiswa. Semua orang bisa dapat, tergantung usahanya. Jadi yang sombong, ke laut saja.
Ini cuman sedikit saran saja. banyak yang setelah sekolah memang memilih tidak pulang. saya tahu ini pilihan, dan saya tidak bisa intervensi pilihan orang lain. Namun, Indonesia masih sangat butuh ilmuwan-ilmuwannya kembali membangun. Pemerintah mungkin kurang apresiastif, tapi masyarakat yang miskin dan yang harus dibantu masih banyak sekali. dan saya yakin, dengan memilih terus berjuang untuk tanah air, dimanapun kita berada, akan sangat bermanfaat.
ketika tidak bisa tidur dan rindu keluarga
Sumber :
Indonesia Mengglobal
Editor :
Caroline Damanik


2. Tahu jenis-jenis beasiswa
3. Gagal itu tidak ada
4. Jangan takut bersaing
5. Improve your English. Tingkatkan kemampuan berbahasa Inggris
6. Sekolah dimana enaknya?
7. Selamat datang sukses
8. Jangan lupa pulang ke tanah air. atau kalau ingin menetap di luar, berjuang terus untuk Indonesia
Begitulah. Saya sekarang sedang sekolah di Clinton School of Public Service di kota kecil bernama Little Rock di Arkansas. Saya belajar pelayanan publik di sekolah Presiden Clinton. Banyak orang mencibir saya kok mau sekolah di kota kecil. Tapi buat saya, yang penting adalah bahwa saya tahu saya mau memahami pelayanan publik, dan sekolah ini punya spealisasi itu. Saya juga punya etos belajar yang kuat. Mau dilempar dimana saja, saya akan bisa belajar. Sejauh ini, saya sudah bertemu banyak orang hebat karena bersekolah di sekolah ini. Setidaknya, saya bertemu Hans Blix, utusan PBB yang mencari senjata pemusnah massal di Irak, Presiden Clinton, dan Menlu AS Madeline Albright. Saya mungkin tidak masuk ke 10 besar sekolah di Amerika, tapi pengalaman hidup dari luar sekolah juga tidak bisa dinafikkan. Insya Allah, ini semua pasti bisa saya bagi ke Indonesia kelak.
Jadi siapkah Anda mendapat beasiswa? Hanya Anda yang bisa menjawab.
Little Rock, 7 Maret 2010
(tulisan ini juga dipublikasikan di blog pribadinya)

Beberapa Program Beasiswa di Inggris

Inggris menjadi salah satu negara yang baik hati bagi para pelajar internasional. Melalui berbagai program beasiswa, pemerintah Inggris memberi kesempatan pelajar internasional menempuh studi sarjana dan pascasarjana secara gratis.
Jika tertarik untuk bersekolah di Inggris melalui jalur beasiswa, berikut beberapa lembaga pemberi beasiswa di negara Ratu Elizabeth seperti dilansir laman Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI London, Rabu (13/3/2013). Untuk informasi lebih lengkap, silahkan klik huruf-huruf yang bercetak tebal:
Beasiswa ini disponsori oleh Pemerintah Inggris melalui Kantor Kementerian Luar Negeri (Foreign and Commonwealth Office atau FCO). Beasiswa akan diberikan untuk jenjang S-2 (Master) selama satu tahun di universitas atau institusi pendidikan yang berada di Inggris Raya.
Sebagai penerima beasiswa Chevening, kita akan mendapatkan fasilitas biaya hidup, biaya kuliah, dan tiket pulang pergi.
Klik laman British Council atau www.educationuk.org untuk informasi lengkap tentang beasiswa ini.
Beasiswa ini dikhususkan untuk peminat Cambridge University atau Oxford University. Mereka yang melamar harus berusia di bawah 25 tahun. Sejak 1982, beasiswa ini telah membiayai lebih dari 100scholar, termasuk dari Indonesia. Informasi lengkap bisa disimak di laman Jardine Foundation. Untuk program Jardine Scholarship Award 2013 informasinya bisa dilihat melalui website ini.
4. Beasiswa DIKTI (DGHE Scholarship)
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan membuka pendaftaran beasiswa penuh S-2 dan S-3 ke luar negeri bagi para dosen tetap PTN, dosen DPK dan dosen tetap yayasan (PTS) di lingkungan Kemendikbud.
Bagi yang berminat melamar beasiswa tersebut, silakan mendaftar secara online melalui laman Ditjen Dikti Kemendikbud.
5. Beasiswa Unggulan (High Achiever Scholarship)
Program beasiswa ini diberikan kepada putra-putri terbaik bangsa Indonesia dan mahasiswa asing terpilih. Mereka yang melamar haruslah memiliki potensi dan prestasi pada bidang ilmu sesuai rumpun keilmuan yang diakui Kemendikbud.
Informasi lebih lanjut, silahkan klik website via laman Biro Perencanaan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kemendikbud dan via laman Ditjen Dikti Kemendikbud
6. UK Scholarship Information
Banyak website yang menyediakan informasi beasiswa di Inggris, di antaranyahttp://www.postgraduatestudentships.co.uk/, dan http://www.scholarshipsearch.org.uk/.
Beasiswa yang dikelola Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ini diperuntukkan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan seleksinya diselenggarakan tiap tahun. Selain beasiswa S-2 dan S-3 dalam dan luar negeri, ada juga program beasiswa non-gelar.

8. Beasiswa Islamic Development Bank (IDB)
Beasiswa ini diperuntukkan bagi pelajar di bidang Applied Science and Technology yang berasal dari negara anggota IDB. Ada tiga skema beasiswa yang disediakan IDB, namun yang berlaku bagi warga negara Indonesia adalah Beasiswa Merit Scholarship Programme for High Technology (MSP).
Laman Atdikbud KBRI London memuat informasi lengkap beserta cerita pengalaman penerima beasiswa ini di University of Nottingham.
9. Beasiswa Open Society Institute (OSI)
Sarjana Indonesia bisa kuliah tingkat Master di Inggris melalui beasiswa OSI ini. Simak informasi lengkapnya di website OSI mengingat kerjasama atau peluang universitas tiap tahun berbeda.
10. Beasiswa ke Universitas Oxford untuk Pelajar Indonesia
Informasi lengkap bisa disimak di laman Atdikbud KBRI London. 
Beasiswa untuk mahasiswa Indonesia diberikan pada program Undergraduate, Taught Postgraduatedan Research Postgraduate.
12. Informasi beasiswa lainnya

Lomba Penelitian Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia (LPMTKI) 2013

HIMPUNAN MAHASISWA TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS DIPONEGORO
PROUDLY PRESENTS :

"Biggest National Chemical Engineering Research Competition: 3rd LPMTKI !"

Klik utk perbesar
will be opened from June 17th until july 17th, 2013. FREE REGISTRATION !!

Lomba Penelitian Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia ke-3 (LPMTKI 2013) adalah salah satu Lomba penelitian mahasiswa terbesar di Indonesia, kompetisi yang menantang mahasiswa se-Indonesia untuk menemukan ide kreatif dan inovatif dalam bentuk penelitian Mahasiswa.

Dengan tema : “Sains dan Teknologi Terapan Proses Kimia sebagai Pendorong Pemberdayaan Sumber Daya Alam dalam menghadapi ketahanan Pangan,Energi dan Lingkungan” dengan bidang yang dilombakan yaitu :
• Energi
• Pangan
• Penanganan Bahan Baku dan Pengolahan Limbah Industri Pangan dan Energi

dengan peserta adalah mahasiswa aktif diploma atau S-1 baik di Perguruan Tinggi Swasta maupun Negeri di Indonesia.

Memperebutkan Hadiah :
Juara I : Piala Bergilir LPMTKI + Trophy + Sertifikat + Rp 7.500.000,00
Juara II : Trophy + Sertifikat + Rp 5.000.000,00
Juara III : Trophy + Sertifikat + Rp 3.000.000,00 
Juara Harapan I : Trophy + Sertifikat + Rp 1.000.000,00
Juara Harapan II : Trophy + Sertifikat + Rp 500.000,00

Registrasi :
GRATIS

Untuk Registrasi dan Informasi:
Website : Click on http://lpmtki.tekim.undip.ac.id
Twitter : @LPMTKI_2013 or Click on https://twitter.com/LPMTKI_2013
Facebook : Pusat Informasi LPMTKI 2013

Persiapkan diri anda untuk menjadi bagian dari event penelitian terbesar di Indonesia. 

Contact Person:
Rahmi (085869846274)
Indra (083816566653)
Heri (085325427250)

LPMTKI 2013
lpmtki.tekim.undip.ac.id
LPMTKI

Lomba Menulis Karya Pelangi 2013

Sekilas #KaryaPelangi
Sebuah sayembara menulis pencarian karya-karya luar biasa yang bertemakan “Love, Dream, and Disability” untuk dikolaborasikan menjadi sebuah buku kumpulan kisah inspiratif mengenai dunia disabilitas dengan judul PELANGI.

Penyelenggara:
Lomba menulis ini diselenggarakan oleh Autism Care Indonesia Cabang Solo yang berkolaborasi dengan Penerbit Selaksa Era Intermedia, IDCC (Indonesia Disabled Care Community), Gerkatin Solo, DVO (Deaf Volunteer Organizatin), ILMPI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia), PMOI (Persatuan  Mahasiswa Ortopedagogik Indonesia) serta Akademi Berbagi Kelas Solo-Jogja.
Hadiah :
Juara 1 : Uang Tunai Rp. 1.500.000
Juara 2 : Uang Tunai Rp. 1.000.000
Juara 3 : Uang Tunai Rp.    750.000
Selengkapnya:
Klik untuk perbesar

Check video ini juga ya :
"Istimewa itu.." #KaryaPelangi

Mari berkontribusi untuk bisa saling menginspirasi :
Twitter : @KaryaPelangi

CP:
Asri: 089617181382
Sofi: 085728048909 

Infolomba.com

Kemlu Buka Beasiswa Seni Budaya untuk 43 Negara

JAKARTA - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) membuka kegiatan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) dan memberikannya kepada 70 orang peserta yang berasal dari 43 negara.

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik AM Fachir mengatakan pihaknya sangat antusias terhadap program beasiswa seni dan budaya Indonesia 2013 ini.

"Hal ini memang privilege saya untuk menyambut hangat ke semua untuk upacara pembukaan seni Indonesia dan program beasiswa budaya 2013. Kami sangat senang untuk melihat semua peserta yang sehat dan bersemangat meskipun banyak dari mereka telah melakukan perjalanan yang jauh," ujar Fachir, saat upacara pembukaan seni budaya Indonesia dan beasiswa, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2013).

Dia pun menyampaikan pesan dari Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Wardana untuk penghargaan beasiswa di Indonesia seni dan budaya.

"Saya ingin melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri sekali lagi memberikan penghargaan beasiswa di Indonesia seni dan budaya kepada orang-orang muda berbakat dan menjanjikan dari seluruh dunia," ujarnya.

Tahun ini, lanjutnya, beasiswa diberikan kepada 70 orang muda dari 43 negara, termasuk Bulgaria, Kroasia, Denmark, Kazakhstan, Maroko, Norwegia, Tunisia, dan Yunani, yang telah bergabung dengan program untuk pertama kalinya.

"Di antara mereka, ada juga lima orang Indonesia peserta dari Papua, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Jakarta," ucap Fachir. okezone

Pasrah, Anak Kuli Bangunan Justru Tembus SNMPTN


JAKARTA - Asal ada kemauan, pasti ada jalan. Pepatah itu yang dipegang teguh oleh Ikke Yulia, mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang diterima melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Awalnya, Ikke menutup kemungkinan untuk bisa berkuliah mengingat profesi sang ayah yang seorang kuli bangunan dan ibunya yang merupakan penjual ciki. Tak gentar, kedua orangtua Ikke terus mendorongnya agar meneruskan kuliah.

Selain berhasil menembus SNMPTN, Ikke dapat berkuliah secara cuma-cuma hingga selesai dengan beasiswa Bidik Misi yang diterimanya. “Waktu ikut daftar tes SNMPTN Bidik Misi rasanya sudah pasrah. Enggak mungkin saya bisa kuliah di PTN apalagi kuliah gratis,” ungkap Ikke terharu, seperti dilansir Okezone, Selasa (25/6/2013).

Bahkan, mahasiswa S-1 Teknik Sipil itu rela berada jauh dari keluarganya demi semata-mata memenuhi kebutuhan keluarga yang hanya menggantungkan penghasilan darinya. Dia merasa penghasilan kedua orangtuanya tidak dapat memenuhi kebutuhan dua anak dan seorang nenek.

Keadaan ekonomi yang kurang, tidak menjadikan harapannya pupus dalam meraih cita-cita. "Meskipun cita-cita sebagai dokter kandas akan keadaan ekonomi yang kurang, masih ada cara lain untuk menuju kesuksesan," ujar gadis yang menyukai warna kuning itu.

Pantang menyerah dan kegigihan mengantarkannya pada keberuntungan. Tadinya dia hanya berpikiran, setelah lulus dari SMA akan melanjutkan kuliah di daerah tempat tinggalnya sambil bekerja.

Alumni SMAN 3 Bojonegoro itu mengungkapkan, orangtuanya merasa sangat bangga mendengar kabar kelulusan Ikke di Unesa. Bahkan, sang ayah rela datang jauh-jauh dari Kalimantan hanya untuk menemani Ikke melakukan registrasi ke Unesa.

“Saya terharu sekali, ayah yang jauh-jauh kerja di Kalimantan rela pulang untuk menemani registrasi di Unesa,” tutup Ikke. (okezone)

Beasiswa SAE Institute Jakarta

Following on the success of last year’s Scholarship Challenge, we are pleased to announce the Creative Media Full Scholarship Challenge for 2013! The Creative Media scholarship program was established to encourage young talents to further their educationand prepare for a career in the creative media industry.
In 2012, the world’s leading creative media education group with over 50 campuses in more than 20 countries awarded six full scholarships (and twenty-three partial scholarships) to attend programs at SAE Institute Jakarta.
Competition will be fierce this year, so submit your creative work to our scholarship panel without delay. Stand a chance to win a full scholarship to the leading media school in Jakarta.
Scholarship Programs Offered